Rifai1529blogspot.com
Employers : Pontianak mei 2010 to present · Pontianak, Indonesia , Agri FM Radio announcer · Jun 2010 to present · Pontianak, Indonesia Radio Kampus 107Untan,7 fm, unicore College : BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Tanjungura · Fakultas Teknik · Electrical Enginering, High School: SMK Bina Bangsa Meliau Class of 2007, SMP N 02 Meliau Class of 2004 SD N 01 Meliau,Kabupaten Sanggau I TK Pertiwi I Meliau
Minggu, 23 September 2012
Rifai1529blogspot.com: Asap Cair, Pembeku Karet Ramah Lingkungan
Rifai1529blogspot.com: Asap Cair, Pembeku Karet Ramah Lingkungan: Asap Cair, Pembeku Karet Ramah Lingkungan PANGKALANBALAI - Formula baru pembekuan karet yang biasa disebut pembeku asap cair ter...
Asap Cair, Pembeku Karet Ramah Lingkungan
Asap Cair, Pembeku Karet Ramah
Lingkungan
PANGKALANBALAI - Formula baru
pembekuan karet yang biasa disebut pembeku asap cair ternyata berasal dari
bahan alami yakni cangkang kelapa sawit. Selain ramah lingkungan juga tidak
membahayakan manusia.
Penemu Asap Cair, Ir HM Solihin, Rabu (1/12) mengatakan asap cair ini formula didapat berdasarkan penelitian tahun 1999-2003. Bahan bakunya cangkang kelapa sawit yg dipanaskan 300 derajat dan asapnya didinginkan. "Formula pembeku latek ini, selain tidak bau,latek tidak lengket juga kadar karet kering tinggi dan mutunya lebih bagus," katanya.
Keuntungan lain, formula ini bisa obat nyamuk bisa dioleskan pada kulit dan itu tidak membahayakan.syaifudin
Penemu Asap Cair, Ir HM Solihin, Rabu (1/12) mengatakan asap cair ini formula didapat berdasarkan penelitian tahun 1999-2003. Bahan bakunya cangkang kelapa sawit yg dipanaskan 300 derajat dan asapnya didinginkan. "Formula pembeku latek ini, selain tidak bau,latek tidak lengket juga kadar karet kering tinggi dan mutunya lebih bagus," katanya.
Keuntungan lain, formula ini bisa obat nyamuk bisa dioleskan pada kulit dan itu tidak membahayakan.syaifudin
Minggu,
01 Februari 2009
Saat ini CV. Pusdiklat mengembangkan
kompor BioEthanol dengan merk "E-STOVE", kompor ini merupakan kompor
generasi ke -4 yang telah mengalami modifikasi, sehingga hemat bahan bakar dan
memiliki api yang biru seperti kompor Gas. Satu liter BioEthanol bisa digunkan
untk memasak selama 15-17 jam, sungguh spektakuler. Tidak perlu tabung dan
sangat mudah dalam penggunaannya. Harganya murah cuma Rp. 175.000,- bandingkan
dengan harga Gas dan kompornya.
diposkan oleh asapcair @ 19:04 5 Komentar
Link ke posting ini 

Senin,
22 Desember 2008
PENDAHULUAN
Saat ini Indonesia dikenal memiliki luas perkebunan kelapa terbesar di dunia yakni 3,712 juta Ha, sebagian besar merupakan perkebunan rakyat (96,6%) sisanya milik negara (0,7%) dan swasta (2,7%). Dari potensi produksi sebesar 15 milyar butir pertahun hanya dimanfaatkan sebesar 7,5 milyar butir pertahun atau sekitar 50% dari potensi produksi. Masih banyak potensi kelapa yang belum dimanfaatkan karena berbagai kendala terutama teknologi, permodalan, dan daya serap pasar yang belum merata.
Selain sebagai salah satu sumber minyak nabati, tanaman kelapa juga sebagai sumber pendapatan bagi keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa dan produk ikutannya di Indonesia.
Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu telah banyak melakukan
riset aplikasi dan model-model pengembangan pengolahan
kelapa secara terpadu di masyarakat. Berbagai produk yang telah dikembangkan
diantaranya : Virgin Coconut Oil (VCO), minyak goreng sehat, biodiesel
pengganti solar, bioethanol pengganti bensin, briket arang, asap cair sebagai
bahan pengawet alami, natadecoco, aneka produk kerajinan dari sabut kelapa, dan
aneka produk kosmetik dari VCO. Kesemua produk tersebut dapat diproses dengan
mudah oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat
meningkatkan ekonomi masyarakat. 
Potensi kelapa yang sangat besar dan tersebar diberbagai daerah sangat memungkinkan dikembangkan berbasis masyrakat untuk meningkatkan perekonomian daerah dan memberikan efek pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu yang memiliki pengalaman dalam bidang riset dan pengembangan produk kelapa berbasis masyarakat dapat membantu pemerintah daerah yang berminat untuk mengembangkan program yang ada dalam proposal ini.
TUJUAN
Untuk meningkatkan nilai tambah petani kelapa dengan memproses buah kelapa secara terpadu;
Mengembangkan kelembagaan sosial ekonomi yang terstruktur sehingga mampu menjadi penampung prakarsa, peranserta dan swadaya masyarakat dibidang usaha ekonomi produktif;
Melestarikan Kelapa sebagai sumber daya lok
al dan alternatif peningkatan Ekonomi berbasis Rakyat.
JENIS PROGRAM
Pendidikan dan Pelatihan
Diklat yang dilaksanakan ada dua : (i) reguler dan (ii) In-house training:
Pelatihan Reguler dilaksanakan secara terjadwal di Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu di Jogjakarta. Peserta dapat memilih jenis pelatihan apa yang dibutuhkan untuk pengembangan kelapa terpadu di daerah. Dapat juga mengikuti program magang dan pelatihan group yang jadwal dan jenis pelatihan ditentukan sednfiri oleh peserta.
In-House Training dilaksanakan didaerah sesuai dengan permintaan instansi pemerintah maupun swsta, adapaun materinya:
Materi Pelatihan Meliputi:
Penanaman nilai-nilai kewirausahaan sebagai sikap dasar kemandirian masyarakat
Teknologi Proses : Pengolahan Minyak Kelapa (VCO, Minyak Goreng, Biodiesel)
Teknologi Proses : Pengolahan Tempurung Kelapa (Briket dan Asap Cair)
Teknologi Proses : Pengolahan Air dan Nira Kelapa (Natadecoco dan Bioethanol)
Aplikasi berbagai produk pengolahan kelapa
Pengemasan dan strategi pemasaran produk
Pengembangan Masyarakat dan Pengembangan Produk
Program Pengembangan masyarakat dan Pengembangan produk dilaksanakan setelah pelatihan di lokasi-lokasi peserta pelatihan. Pendampingan ini berlangsung selama 3 hari sehingga peserta pelatihan mampu mengembangkan teknologi pengolahan kelapa di daerahnya masing-masing.
Pengembangan Ekonomi dan Bisnis
Pengembangan ekonomi dilaksanakan setelah pendampingan dan berbagai produk telah dikembangkan dimasyarakat. Program ini bersifat konsultansi seperti pembentukan unit usaha, legalitas usaha (koperasi), sistem manajemen pengolahan usaha, dan strategi pemasaran produk.
JENIS PRODUK YANG DIHASILKAN
Produk Utama:
Saat ini Indonesia dikenal memiliki luas perkebunan kelapa terbesar di dunia yakni 3,712 juta Ha, sebagian besar merupakan perkebunan rakyat (96,6%) sisanya milik negara (0,7%) dan swasta (2,7%). Dari potensi produksi sebesar 15 milyar butir pertahun hanya dimanfaatkan sebesar 7,5 milyar butir pertahun atau sekitar 50% dari potensi produksi. Masih banyak potensi kelapa yang belum dimanfaatkan karena berbagai kendala terutama teknologi, permodalan, dan daya serap pasar yang belum merata.
Selain sebagai salah satu sumber minyak nabati, tanaman kelapa juga sebagai sumber pendapatan bagi keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa dan produk ikutannya di Indonesia.
Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu telah banyak melakukan


Potensi kelapa yang sangat besar dan tersebar diberbagai daerah sangat memungkinkan dikembangkan berbasis masyrakat untuk meningkatkan perekonomian daerah dan memberikan efek pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu yang memiliki pengalaman dalam bidang riset dan pengembangan produk kelapa berbasis masyarakat dapat membantu pemerintah daerah yang berminat untuk mengembangkan program yang ada dalam proposal ini.
TUJUAN
Untuk meningkatkan nilai tambah petani kelapa dengan memproses buah kelapa secara terpadu;
Mengembangkan kelembagaan sosial ekonomi yang terstruktur sehingga mampu menjadi penampung prakarsa, peranserta dan swadaya masyarakat dibidang usaha ekonomi produktif;
Melestarikan Kelapa sebagai sumber daya lok

JENIS PROGRAM
Pendidikan dan Pelatihan

Diklat yang dilaksanakan ada dua : (i) reguler dan (ii) In-house training:
Pelatihan Reguler dilaksanakan secara terjadwal di Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu di Jogjakarta. Peserta dapat memilih jenis pelatihan apa yang dibutuhkan untuk pengembangan kelapa terpadu di daerah. Dapat juga mengikuti program magang dan pelatihan group yang jadwal dan jenis pelatihan ditentukan sednfiri oleh peserta.
In-House Training dilaksanakan didaerah sesuai dengan permintaan instansi pemerintah maupun swsta, adapaun materinya:
Materi Pelatihan Meliputi:
Penanaman nilai-nilai kewirausahaan sebagai sikap dasar kemandirian masyarakat
Teknologi Proses : Pengolahan Minyak Kelapa (VCO, Minyak Goreng, Biodiesel)
Teknologi Proses : Pengolahan Tempurung Kelapa (Briket dan Asap Cair)
Teknologi Proses : Pengolahan Air dan Nira Kelapa (Natadecoco dan Bioethanol)
Aplikasi berbagai produk pengolahan kelapa
Pengemasan dan strategi pemasaran produk
Pengembangan Masyarakat dan Pengembangan Produk
Program Pengembangan masyarakat dan Pengembangan produk dilaksanakan setelah pelatihan di lokasi-lokasi peserta pelatihan. Pendampingan ini berlangsung selama 3 hari sehingga peserta pelatihan mampu mengembangkan teknologi pengolahan kelapa di daerahnya masing-masing.
Pengembangan Ekonomi dan Bisnis
Pengembangan ekonomi dilaksanakan setelah pendampingan dan berbagai produk telah dikembangkan dimasyarakat. Program ini bersifat konsultansi seperti pembentukan unit usaha, legalitas usaha (koperasi), sistem manajemen pengolahan usaha, dan strategi pemasaran produk.
JENIS PRODUK YANG DIHASILKAN
Produk Utama:

Produk utama yang dihasilkan dari buah kelapa adalah Virgin Coconut Oil (VCO), yaitu minyak kelapa yang diperoleh melalui proses emulsi, sehingga dihasilkan minyak kelapa yang bening dan berkhasiat Virgin Coconut Oil, mengandung asam laurat yang sangat tinggi (42%-53%), secara alami asam laurat yang tinggi hanya terdapat di Air Susu Ibu dan Minyak Kelapa. Asam Laurat sangat berperan dalam membantu tubuh meningkatkan imunitas, dan meningkatkan metabolisme, minyak kelapa murni ini bahkan digunakan dalam therapy penyembuhan penyakit. Dari Produk utama ini dihasilkan beberapa produk turunan:
a. Minyak Goreng Sehat
Minyak Goreng Sehat diproses dari VCO, penggunaan VCO sebagai bahan baku, menyebabkan minyak goreng tahan terhadap panas sehingga penggunaannya sebagai

b. Kosmetik
Dalam proses pembuatan Kosmetik hampir 80% produk-produk kosmetik dan toilet (Cream Perawatan Wajah, Lotion, dan aneka sabun)lainnya menggunakan bahan dasar Minyak, VCO merupakan bahan dasar yang paling baik yang dapat digunakan sebagai pembuatan Kosmetik.

c. Cocodiesel/Biodiesel (pengganti solar)
Cocodiesel/Biodiesel kelapa memiliki kandungan oksigen yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan Minyak Solar fosil, selain itu pemerosesan minyak kelapa menjadi Cocodiesel/Biodiesel tidak terlalu rumit bahkan dapat dibuat dengan alat yang sangat sederhana sehingga dapat diproduksi oleh masyarakat yang berada di pedalaman dan jauh dari kota, mereka dapat memenuhi energinya sendiri dengan memanfaatkan buah kelapa yang tumbuh di pedalaman.
Produk Sampingan
Pengolahan kelapa menjadi minyak meninggalkan limbah antara lain : Sabut Kelapa, Tempurung Kelapa, & air kelapa.
a. Sabut kelapa dapat diproses
sebagai barang kerajinan atau dipacking dalam ukuran tertentu untuk diekspor
sebagai bahan pembuat Jock Mobil atau dapat dijadikan kasur serat sabut kelapa,
atau dibuat jaring sabut kelapa (cocomesh) untuk menahan erosi pada
lahan kritis, dari sabut juga dihasilkan cocodust yang dapat
digunakan sebagai medium tanaman hias atau sayur-sayuran.
b. Tempurung Kelapa dapat diolah menjadi:
i. Briket ArangTempurung

b. Tempurung Kelapa dapat diolah menjadi:
i. Briket ArangTempurung
Briket Arang tempurung merupakan hasil sampingan dari pembuatan asap cair yang berbahan tempurung kelapa, arang tempurung ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah.

ii. Arang Aktif
iii. Kerajinan
iv. Asap Cair
Asap Cair (Liquid smoke) merupakan hasil pirollisis dari batok kelapa, melalui proses lebih lanjut asap cair dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami yang dapat digunakan dalam industri ikan, tahu dan mie. Selain itu Asap Cair dapat digunkan sebagai pengganti Asam Semut pada proses penggumpalan karet, penggunaan asap cair dalam proses tersebut akan menurunkan biaya produksi karet dan kualitas karet menjadi lebih baik. Asap Cair juga dapat digunakan sebagai pengawet kayu terutama untuk memberikan Coating terhadap mebel kayu terutama dari serangan bubuk kayu dan jamur. Asap Cair juga dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam proses penyamakan kulit, dari uji aplikasi yang dilakukan terbukti asap cair dapat mempertahankan keawetan kulit yang telah disamak.
c. Air Kelapa
Air kelapa diolah menjadi Nata De coco, Nata Decoco merupakan hasil sampingan yang diproses dari air kelapa yang merupakan limbah, nata decoco adalah hasil fermentasi dari air kelapa, biasanya dijadikan campuran dalam hidangan penutup makan, dapat juga sebagai minuman berserat.
Pengolahan Nira Kelapa.

a. Bioethanol (pengganti bensin & kompor gas)
Bioethanol dapat dibuat dari nira kelapa. Hasil sadapan nira kelapa setelah melalui proses fermentasi dapat diolah menjadi Bioethanol, dan Bioethanol ini dapat digunakan sebagai pengganti bensin setelah mengalami proses pemurnian, cara pembuatannya yang mudah sehingga dapat dibuat dipedalaman atau tempat-tempat terpencil di daerah. Selain itu Bioethanol atau yang lebih dikenal dengan nama Alkohol merupakan produk yang di butuhkan dalam Industri Kimia, Makanan, Rokok, Kedokteran, Kosmetika dan lain-lain
b. Gula Kelapa
Gula Kelapa dibeberapa daerah diproses lagi menjadi beberapa produk antara lain sebagai gula semut, sirup, bahan baku kecap, bumbu masak dan lain-lain.
BIAYA PROGRAM
Biaya meliputi survey, pelatihan, pendampingan dan pengembangan masyarakat, dan pengembangan bisnis disesuaikan dengan ruang lingkup pekerjaan, lokasi, dan jenis produk yang ingin dikembangkan.
Informasi lebih lanjut Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu Jl. Nitikan 9 Yogyakarta tlp/fax .( 0274) 372376 email : repindo_indonesia@ yahoo.com contac person : Arif Nugroho, 08562565965
diposkan oleh asapcair @ 21:49 3 Komentar
Link ke posting ini 

Jumat,
19 Desember 2008
PETUNJUK PEMAKAIAN BIOSHELL
IKAN SEGAR
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
Persiapan BioShell yaitu BioShell 150 ml (3/4 gelas bekas aqua BioShell)dilarutkan dalam air 1 liter
Ikan segar yang baru ditangkap dicelupkan dalam BioShell 150 ml selama 3 menit Kemudian ikan segar ditiriskan
Ikan disimpan dalam es yang sudah dihancurkan dengan perbandingan dengan ikan yang disimpan kemudian diberi garam sedikit agar es tidak cepat mencair.
Efektifitas pengawetan Ikan:
Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan selama 2 hari, jika disimpan dalam es mampu awet selama 12 hari.
Efektifitas pencepulan ikan ke dalam BioShell sebanyak 3x pencelupan
Ikan yang dicelupkan BioShell ini mempunyai keunggulan yaitu teksturnya lebih kenyal dan warna ikan lebih bersih.
IKAN PINDANG
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam (1:3)
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
- Naya
- Panci
- Alat Pemberat
Cara Perlakuan:
Ikan segar dipisahkan berdasarkan ukurannya, ikan yang besar dibersihkan isi perutnya, sedangkan ikan kecil langsung dicuci dengan air
Ikan dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air
Ikan dimasukkan dalam naya, masing- masing naya berisi 2 ikan kemudian bagian atasnya ditaburi dengan garam sampai merata.
Air garam dengan perbandingan (1:3) dipanaskan sampai mendidih kemudian ikan dalam naya dimasukkan dan diberi alat pemberat sampai air mendidih kembali
Kemudian ikan diangkat dan ditiriskan.
Diagram alir pengawetan :
Efektifitas pengawetan ikan pindang :
1. Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan pindang selama selama 3 hari
IKAN ASIN
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
- Tempat penjemuran
-
Pengawetan ikan asin ada 2 cara yaitu :
Cara penggunaan 1:
Ikan segar dibersihkan isi perutnya, untuk ikan besar dibelah sedangkan ikan kecil tidak perlu dibelah
Ikan dicuci dengan air bersih dan ditiriskan, kemudian dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air selama 3 menit dan ditiriskan kembali
Ikan diberi garam dengan perbandingan (1:3) sehingga semua bagian ikan terlumuri garam dan dibiarkan selama 24 jam
Ikan dicuci dengan air bersih dan dijemur sampai kering
Ikan yang sudah kering didinginkan kemudian dikemas
Cara penggunaan 2:
Ikan Yang sudah penggaraman dikapal dicuci dengan air yang sudah diberi 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air
Kemudian dicuci dengan air mengalir
Ikan yang sudah bersih dijemur sampai kering
Kemudian didinginkan dan dikemas
Efektifitas pengawetan ikan asin
Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan asin selama 12 bulan, sedang tanpa BioShell hanya dapat bertahan selama 3 bulan
keunggulan dari ikan asin yang memakai BioShell adalah ikan asin tampak lebih bersih dan lebih kering bila dibandingkan tanpa menggunakan BioShell.
AYAM :
Bahan yang digunakan :
- Ayam segar
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
Ayam segar dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air selama 30 detik.
Kemudian ditiriskan
Untuk pengawetan lebih dari 1 hari disimpan dalam pendingin
Efektifitas pengawetan ayam :
1. Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ayam selama 18 jam, jika disimpan dalam es mampu awet selama 8 hari.
DAGING SAPI ASAP
Bahan yang digunakan :
- Daging segar
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
1. Daging segar dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell dalam 1 liter air selama 2 menit.
2. Kemudian ditiriskan
3. Untuk pengawetan lebih dari 1 hari disimpan dalam pendingin
MIE BASAH
Bahan yang digunakan :
- Tepung Terigu
- Soda abu
- Garam
- Air
- BioShell G2
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Penggilingan mie
- Baskom
- Botol
Cara penggunaan:
1. Campurkan semua bahan kecuali BioShell hingga homogen
2. Kemudian diuleni dengan botol hingga kalis
3. Ditipiskan dengan penggilingan dan di bentuk mie
4. Sediakan air untuk perebusan yang sebelumnya telah ditambahkan 3 ½ sendok makan BioShell Grade 2 dalam 1 liter air. BioShell bisa ditambahakan dalam kuning telur.
5. Setelah matang ditiskan dan diberi sedikit minyak goreng
6. Simpan dalam wadah
Efektifitas pengawetan Mie basah :
Mie basah yang di awetkan menggunakan 3 ½ sendok makan BioShell Grade 2 dalam 1 liter air dapat bertahan selama 3 hari s/d 4 hari
BAKSO
Bahan yang digunakan :
1. Daging sapi segar 5 kg
2. 1 sendok teh BioShell grade1 dalam 1 kg tepung kanji
3. dan 2 ½ sendok makan BioShell grade 2 dalam 1 liter air
4. tepung tapioca 1 kg
5. es batu 1,2 kg
6. garam 150 gram
7. merica 5 sendok teh
8. bawang putih 10 siung
Alat-alat yang digunakan:
1. alat giling
2. panci perebus
3. kompor
4. baskom plastic
5. tirisan
6. Gelas ukur
7. Sendok
Bakso yang di awetkan menggunakan 1/3 sendok teh BioShell grade2 dalam 1 kg tepung kanji dapat bertahan selama 2 hari, tetapi sedikit bau asap
Bakso yang di awetkan menggunakan 2/3 sendok teh BioShell grade2 dalam 1 kg tepung kanji dapat bertahan selama 2 hari, tetapi sedikit bau asap
IKAN SEGAR
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
Persiapan BioShell yaitu BioShell 150 ml (3/4 gelas bekas aqua BioShell)dilarutkan dalam air 1 liter
Ikan segar yang baru ditangkap dicelupkan dalam BioShell 150 ml selama 3 menit Kemudian ikan segar ditiriskan
Ikan disimpan dalam es yang sudah dihancurkan dengan perbandingan dengan ikan yang disimpan kemudian diberi garam sedikit agar es tidak cepat mencair.
Efektifitas pengawetan Ikan:
Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan selama 2 hari, jika disimpan dalam es mampu awet selama 12 hari.
Efektifitas pencepulan ikan ke dalam BioShell sebanyak 3x pencelupan
Ikan yang dicelupkan BioShell ini mempunyai keunggulan yaitu teksturnya lebih kenyal dan warna ikan lebih bersih.
IKAN PINDANG
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam (1:3)
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
- Naya
- Panci
- Alat Pemberat
Cara Perlakuan:
Ikan segar dipisahkan berdasarkan ukurannya, ikan yang besar dibersihkan isi perutnya, sedangkan ikan kecil langsung dicuci dengan air
Ikan dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air
Ikan dimasukkan dalam naya, masing- masing naya berisi 2 ikan kemudian bagian atasnya ditaburi dengan garam sampai merata.
Air garam dengan perbandingan (1:3) dipanaskan sampai mendidih kemudian ikan dalam naya dimasukkan dan diberi alat pemberat sampai air mendidih kembali
Kemudian ikan diangkat dan ditiriskan.
Diagram alir pengawetan :
Efektifitas pengawetan ikan pindang :
1. Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan pindang selama selama 3 hari
IKAN ASIN
Bahan yang digunakan :
- Ikan segar
- Garam
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
- Tempat penjemuran
-
Pengawetan ikan asin ada 2 cara yaitu :
Cara penggunaan 1:
Ikan segar dibersihkan isi perutnya, untuk ikan besar dibelah sedangkan ikan kecil tidak perlu dibelah
Ikan dicuci dengan air bersih dan ditiriskan, kemudian dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air selama 3 menit dan ditiriskan kembali
Ikan diberi garam dengan perbandingan (1:3) sehingga semua bagian ikan terlumuri garam dan dibiarkan selama 24 jam
Ikan dicuci dengan air bersih dan dijemur sampai kering
Ikan yang sudah kering didinginkan kemudian dikemas
Cara penggunaan 2:
Ikan Yang sudah penggaraman dikapal dicuci dengan air yang sudah diberi 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air
Kemudian dicuci dengan air mengalir
Ikan yang sudah bersih dijemur sampai kering
Kemudian didinginkan dan dikemas
Efektifitas pengawetan ikan asin
Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ikan asin selama 12 bulan, sedang tanpa BioShell hanya dapat bertahan selama 3 bulan
keunggulan dari ikan asin yang memakai BioShell adalah ikan asin tampak lebih bersih dan lebih kering bila dibandingkan tanpa menggunakan BioShell.
AYAM :
Bahan yang digunakan :
- Ayam segar
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
Ayam segar dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell G2 dalam 1 liter air selama 30 detik.
Kemudian ditiriskan
Untuk pengawetan lebih dari 1 hari disimpan dalam pendingin
Efektifitas pengawetan ayam :
1. Penggunaan 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air mampu mengawetkan ayam selama 18 jam, jika disimpan dalam es mampu awet selama 8 hari.
DAGING SAPI ASAP
Bahan yang digunakan :
- Daging segar
- 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell grade 2 dalam 1 liter air
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Ember
Cara penggunaan :
1. Daging segar dicelupkan dalam 3/4 gelas bekas aqua (150 ml) BioShell dalam 1 liter air selama 2 menit.
2. Kemudian ditiriskan
3. Untuk pengawetan lebih dari 1 hari disimpan dalam pendingin
MIE BASAH
Bahan yang digunakan :
- Tepung Terigu
- Soda abu
- Garam
- Air
- BioShell G2
Alat-alat yang digunakan:
- Gelas ukur
- Penggilingan mie
- Baskom
- Botol
Cara penggunaan:
1. Campurkan semua bahan kecuali BioShell hingga homogen
2. Kemudian diuleni dengan botol hingga kalis
3. Ditipiskan dengan penggilingan dan di bentuk mie
4. Sediakan air untuk perebusan yang sebelumnya telah ditambahkan 3 ½ sendok makan BioShell Grade 2 dalam 1 liter air. BioShell bisa ditambahakan dalam kuning telur.
5. Setelah matang ditiskan dan diberi sedikit minyak goreng
6. Simpan dalam wadah
Efektifitas pengawetan Mie basah :
Mie basah yang di awetkan menggunakan 3 ½ sendok makan BioShell Grade 2 dalam 1 liter air dapat bertahan selama 3 hari s/d 4 hari
BAKSO
Bahan yang digunakan :
1. Daging sapi segar 5 kg
2. 1 sendok teh BioShell grade1 dalam 1 kg tepung kanji
3. dan 2 ½ sendok makan BioShell grade 2 dalam 1 liter air
4. tepung tapioca 1 kg
5. es batu 1,2 kg
6. garam 150 gram
7. merica 5 sendok teh
8. bawang putih 10 siung
Alat-alat yang digunakan:
1. alat giling
2. panci perebus
3. kompor
4. baskom plastic
5. tirisan
6. Gelas ukur
7. Sendok
Bakso yang di awetkan menggunakan 1/3 sendok teh BioShell grade2 dalam 1 kg tepung kanji dapat bertahan selama 2 hari, tetapi sedikit bau asap
Bakso yang di awetkan menggunakan 2/3 sendok teh BioShell grade2 dalam 1 kg tepung kanji dapat bertahan selama 2 hari, tetapi sedikit bau asap
diposkan oleh asapcair @ 01:02 2 Komentar
Link ke posting ini 

Rabu,
17 Desember 2008
Asap Cair memiliki berbagai macam
Grade, CV. PPKT dengan merk BioShell memiliki 3 grade dengan peruntukan yang berbeda:
- Grade 1 : Warna> bening; Rasa> sedikit asam; Aroma>Netral, Peruntukan> Makanan, Ikan. Harga Konsumen >Rp. 30.000/liter {pembelian melalui pemesanan minimal 3 hari}
- Grade 2: Warna >Kecoklatan Transparan: Rasa> Asam Sedang; Aroma>Asap Lemah, Peruntukan> Makanan dengan taste Asap (daging Asap, bakso, Mie, tahu, ikan kering, telur asap, bumbu-bumbu barbaque, Ikan Asap/bandeng Asap); Harga Konsumen Rp. 20.000/liter
- Grade 3: Warna > Coklat Gelap; Rasa> Asam kuat; Aroma> Asap Kuat; Peruntukan> Penggumpal Karet pengganti asam semut, Penyamakan Kulit, pengganti Antiseptik untuk kan, menghilangkan jamur dan mengurangi bakteri patogen yang terdapat di kolam ikan. Rp. 8.500,-
CV. PPKT juga memproduksi Tar yang
merupakan sisa pemrosesan Asap Cair dengan merk BioTar yang dapat digunakan sebagai pengawet kayu dalam industri
mebel/furnitur, harga eceran Rp. 7.500/liter, cara pakai dapat dicampurkan
dalam melamin atau plitur, kayu yang diberi BioTar akan tahan terhadap serangan
hama Bubuk dan Jamur.
diposkan oleh asapcair @ 20:28 1 Komentar
Link ke posting ini 

Selasa,
16 Desember 2008
Hendry T. S. Saragih1 Soesanto
Mangkoewidjojo2, Syarifuddin Tato3
1. Laboratorium Histologi&Embriologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2. Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3. Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lethal dose 50 (LD50) asap cair grade 2 pada mencit betina strain Swiss. Sebelum penentuan dosis LD50, terlebih dahulu dilakukan prapenelitian dengan berbagai tahapan dosis dengan menggunakan 2 ekor mencit pada tiap kelompok. Uji prapenelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan dosis dimana kedua mencit tidak mengalami kematian dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit mengalami kematian. Sebelum dilakukan perlakuan, mencit dipuasakan makan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum dan 2 jam sesudah perlakuan. Pada tahap prapenelitian 1, larutan asap cair grade 2 diberikan secara oral dengan dosis 10, 100, 1000 dan 10.000 mg/kg bb dengan menggunakan faktor (R) 10. Setelah diperoleh kisaran dosis yang berada diantara 1000 - 10.000 mg/kg bb, kemudian dilakukan tahapan prapenelitian ke-2 dengan menggunakan faktor (R) 2 yaitu pada dosis 2000, 4000 dan 8000 mg/kg bb. Berdasarkan hasil prapenelitian, dapat diketahui bahwa dosis bawah dan atas di tahapan penelitian dimulai pada dosis 6500 mg/kg bb - 9500 mg/kg bb.
Pada tahap penelitian, mencit dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 ekor. Kelompok 1 sebagai kontrol diberi makan dan minum standar. Kelompok 2 diberi larutan asap cair grade 2 dengan dosis 6500 mg/kg bb/oral dan kelompok 3 diberi larutan asap cair grade 2 dengan dosis 7000 mg/kg bb/oral. Kelompok
4 diberi larutan Asap cair grade 2 dosis 7500 mg/kg bb/oral dan kelompok 5 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 8000 mg/kg bb/oral. Kelompok 6 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 8500 mg/kg bb/oral dan kelompok 7 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 9000 mg/kg bb/oral. Kelompok 8 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 9500 mg/kg bb/oral/hari. Data kematian ditetapkan selama 48 jam setelah perlakuan. Penentuan LD50 dilakukan dengan melihat kematian mencit pada setiap kelompok perlakuan selama 48 jam. Gejala klinis setiap individu mencit diamati, data kematian dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang kemudian dijadikan persentase kematian. Hasil persentase kematian kemudian dihitung dengan metode Reed-Muench menggunakan interpolasi linier untuk mendapat LD50 dan standard error (SE).
Gejala klinis yang tampak pada mencit perlakuan diantaranya peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Kelompok perlakuan dengan dosis tinggi, mencit mengalami kematian setelah periode kritis (3 jam), sementara mencit pada kelompok lainnya mati pada periode antara 24 – 48 jam. Hasil LD50
± SE asap cair grade 2 dengan metode Reed-Muench diperoleh dosis 7848 ± 191,069.
Pendahuluan
Pengasapan merupakan proses pengolahan bahan makanan yang seringkali digunakan pada pengolahan daging, ikan, dan bahan makanan lainnya. Pengasapan ini berfungsi selain menurunkan kadar air juga mengembangkan warna, cita rasa yang spesifik dan menghambat mikrobia. Proses pengasapan secara tradisional dengan menggunakan asap pembakaran secara langsung mempunyai beberapa kelemahan seperti kualitas yang kurang konsisten, kesulitan pengendalian prosesnya, terdepositnya ter pada bahan makanan sehingga membahayakan kesehatan. Pengasapan juga menyebabkan pencemaran lingkungan serta memungkinkan bahaya kebakaran (Amriah, dkk., 2006).
Kelemahan-kelemahan di atas dapat diatasi dengan mengembangkan proses pengasapan menggunakan asap cair, yaitu campuran larutan dari dispersi uap asap kayu dalam air (Amriah, dkk., 2006).
Asap cair yang berasal dari tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan dasar dengan cara pirolisis dalam reaktor pada suhu 400 – 500 oC diikuti dengan kondensasi menggunakan air sebagai medium pendingin. Kondensat yang dihasilkan didestilasi sebanyak dua kali dan disaring dengan zeolit diteruskan dengan penyaringan vakum (Asap Cair 1). Asap cair kedua berasal dari destilasi 2x dilanjutkan dengan destilasi fraksinasi
0 – 100 oC (Asap cair grade 2). Dari hasil penelitian asap cair yang jernih kekuningan atau asap cair grade 2 bagus digunakan untuk pengawetan makanan seperti bakso, tahu dan mie (Amriah, dkk., 2006).
Penggunaan asap cair untuk memberikan citarasa serta pengawetan ada beberapa metode seperti penambahan asap cair langsung ke produk dalam bentuk saus, pencelupan langsung dalam asap cair, penyemprotan larutan asap ke produk, atomisasi asap cair dalam bentuk kabut, dan penguapan asap cair sehingga berubah bentuk manjadi asap sehingga kontak dengan produk (Amriah, dkk., 2006).
Namun demikian, pengujian sifat toksik dari asap cair grade 2 belum dilakukan baik menggunakan hewan model ikan ataupun mamalia. Pengujian daya toksik suatu bahan kimia dapat dilakukan dengan penentuan lethal concentration 50 (LC50) pada ikan atau pengujian lethal dose 50 (LD50) pada hewan mamalia seperti kelinci, tikus dan mencit. Penetapan LD50 adalah penetapan kemampuan toksik suatu bahan kimia secara akut yang menyebabkan kematian hewan coba hingga mencapai 50% melalui pemberian secara oral
(Anonim, 1998).
Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi karakteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. Data uji akut juga dapat menjadi dasar klasifikasi dan pelabelan suatu bahan kimia (Anonim, 1998).
Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pamaparan bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung menggunakan nilai LC50 atau LD50. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia (Anonim, 1998). Toksisitas akut dari bahan kimia lingkungan dapat ditetapkan secara eksperimen menggunakan spesies tertentu seperti mamalia, bangsa unggas, ikan, hewan invertebrata, tumbuhan vaskuler dan alga (Hodgson dan Levi, 1997). Uji toksisitas akut dapat menggunakan beberapa hewan mamalia, namun yang dianjurkan untuk uji LD50 diantaranya tikus, mencit dan kelinci (Anonim, 1998).
Uji toksisitas akut dapat dipengaruhi oleh respon biologik hewan uji seperti jenis kelamin. Contoh respon tubuh akibat jenis kelamin yaitu nilai LD50 Digitoxin yang diuji pada tikus jantan diperoleh angka 56 mg/kg bb, sementara untuk tikus betina 94 mg/kg bb
(Buck, dkk.,1976). Pada uji toksisitas, disyaratkan untuk setiap kelompok perlakuan menggunakan hewan coba dengan jenis kelamin sejenis dan umur yang direkomendasikan seperti untuk tikus dan mencit, umur yang direkomendasikan untuk uji adalah diantara
8 – 12 minggu, sementara untuk kelinci berumur 12 minggu (Anonim, 1998).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji LD50 bahan asap cair grade 2 menggunakan hewan model mencit betina galur Swiss.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lethal dose 50 (LD50) asap cair grade 2
pada mencit betina galur Swiss.Materi dan Metode
Asap cair grade 2
Larutan asap cair pekat digunakan sebagai bahan awal penelitian yang kemudian diencerkan menjadi konsentrasi 60% dan 6%. Perhitungan dosis LD50 yang menggunakan satuan mg/kg bb, pada larutan asap cair ini dihitung berdasar pengenceran konsentrasi 60% dan 6%. Perlakuan diberikan secara oral pada mencit dengan volume 0,5 ml/30 gr bb. Selama perlakuan, peneliti menggunakan hand spoon disposible dan masker.
Hewan coba
Sembilan puluh empat ekor mencit galur Swiss, jenis kelamin betina, belum beranak dan tidak bunting, umur 2 bulan dengan berat rata-rata 30 gram digunakan untuk penelitian ini. Mencit diperoleh dari Unit Pelayanan Pra Klinik LPPT UGM. Mencit dikandangkan menggunakan fasilitas kandang Unit Pelayanan Pra Klinik LPPT Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan suhu 27±10C dan kelembaban 65±5%. Mencit sebelum diberi perlakuan, diadaptasikan dahulu terhadap kondisi penelitian selama
1 minggu (Anonim, 1998). Mencit diberi makanan standar berbentuk pelet jenis BR-1
(Comfeed Indonesia) serta air minum secara ad libitum.
Rancangan percobaan LD50
Berdasarkan metode Weil (1952), untuk menentukan dosis LD50, terlebih dahulu dilakukan prapenelitian dengan berbagai tahapan dosis menggunakan 2 ekor mencit pada tiap kelompok (Al-Sultan dan Hussein, 2006). Uji prapenelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan dosis dimana kedua mencit tidak mengalami kematian, dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit mengalami kematian (Miya, dkk., 1976). Sebelum dilakukan perlakuan, mencit dipuasakan makan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum dan
2 jam sesudah perlakuan (Anonim, 1998). Tahap prapenelitian pertama, larutan asap cair grade 2 diberikan secara oral dengan dosis 10, 100, 1000 dan 10.000 mg/kg bb dengan menggunakan faktor (R) 10. Setelah diperoleh kisaran dosis berada diantara 1000 - 10.000 mg/kg bb, kemudian dilakukan tahapan prapenelitian 2 dengan menggunakan faktor (R) 2 yaitu pada dosis 2000, 4000 dan 8000 mg/kg bb (Buck, dkk.,1976; Anonim, 1998). Berdasarkan hasil prapenelitian, dosis bawah dan atas ditemukan masing-masing 6500
mg/kg bb dan 9500 mg/kg bb, sehingga dosis tersebut digunakan sebagai pedoman pada tahap penelitian.
Pada tahap penelitian, digunakan 80 ekor mencit. Mencit dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 ekor. Mencit kelompok 1 sebagai kontrol diberi makan dan minum standar. Kelompok 2 diberi larutan asap cair dengan dosis 6500 mg/kg bb/oral dan kelompok 3 diberi larutan asap cair dengan dosis 7000 mg/kg bb/oral. Kelompok 4 diberi larutan asap cair dosis 7500 mg/kg bb/oral dan kelompok 5 diberi larutan asap cair dosis 8000 mg/kg bb/oral. Kelompok 6 diberi larutan asap cair dosis 8500 mg/kg bb/oral dan kelompok 7 diberi larutan asap cair dosis 9000 mg/kg bb/oral. Kelompok 8 diberi larutan asap cair dosis 9500 mg/kg bb/oral/hari. Data kematian ditetapkan selama 48 jam setelah perlakuan (Anonim, 1998).
Penentuan LD50
Penentuan LD50 dilakukan dengan melihat kematian mencit pada setiap kelompok perlakuan mulai dosis 6500-9500 mg/kg bb selama 48 jam. Data kematian dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang kemudian dijadikan persentase kematian. Hasil persentase kematian kemudian diolah menurut metode Reed-Muench dengan interpolasi linier untuk mendapat LD50 dan standard error (SE) (Miya, dkk., 1976).
Gejala klinis
Hasil dan Pembahasan
Gejala klinis yang tampak pada mencit perlakuan dosis tinggi diantaranya peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Kelompok perlakuan dengan dosis tinggi, mencit mengalami kematian setelah periode kritis (3 jam), sementara mencit pada kelompok lainnya mati pada periode antara 24 – 48 jam.
Penetapan LD50 dan standard error (SE)
Penetapan LD50 menurut metode Reed-Muench menggunakan interpolasi linier dapat dilihat pada tabel 1.
Penelitian atau kajian literatur yang menjelaskan tentang toksisitas asap cair grade 2 yang berasal dari tempurung kelapa pada mencit belum pernah dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan dosis LD50 asap cair grade 2 yang berasal dari tempurung kelapa. Gejala klinis yang umum pada kejadian hewan yang mengalami toksik yang berat diantaranya salifasi yang berlebih, diare, peradangan pada mulut, esofagus, dan lambung, reaksi pupil mata yang menurun, takikardia, hewan tidak mau bergerak atau bergerak tidak teratur (Al-Sultan dan Hussein, 2006). Gejala klinis mencit kelompok perlakuan dosis
9000-9500 mg/kg bb pada penelitian ini meliputi gejala peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Gejala klinis mencit kelompok dosis 6500 – 8000 mg/kg bb tidak menunjukkan gejala toksik yang berat. Waktu kematian pada perlakuan dosis 9000 – 9500 rata-rata 17 jam, waktu kematian pada dosis
8000 – 8500 rata-rata 24 jam, sementara waktu kematian pada dosis 7000 – 7500 rata-rata
36 jam. Data waktu kematian ini, menunjukkan bahwa pada dosis 9000 – 9500 merupakan dosis toksisitas tinggi.
Hasil LD50 ± SE asap cair grade 2 yang telah di uji dengan metode Reed-Muench
(Miya, dkk., 1976) yaitu 7848 ± 191,069 mg/kg bb. Menurut Hodgson dan Levi (1997), skema rangking nilai toksisitas akut (LD50) bahan kimia yang diuji pada hewan mamalia, untuk dosis LD50 dosis kurang dari 50 mg/kg bb dinyatakan bersifat toksik yang ekstrim, dosis 50 – 500 mg/kg bb dinyatakan sangat toksik, dosis 500 – 5000 mg/kg bb dinyatakan bersifat toksik moderat, sementara dosis diatas 5000 mg/kg bb dinyatakan relatif tidak toksik. Dari hasil penelitian LD50 yang telah dilakukan diperoleh nilai LD50 yaitu
7848 ± 191,069 mg/kg bb. Berdasarkan skema rangking nilai toksisitas akut (lihat tabel 2.), dinyatakan bahwa larutan asap cair grade 2 relatif tidak toksik.
Ucapan Terimakasih
Ucapan terima kasih diucapkan kepada Direktur CV. Pusat Pengolahan Kelapa
Terpadu, Yogyakarta yang telah membantu dalam pengadaan Asap Cair Grade 2.
*Prosiding Seminar Nasional ”Peran Bioteknologi bagi Kesejahteraan Umat”, Yogyakarta, 24 Mei 2008. Diselenggarakan oleh Yayasan Memajukan Bioteknologi Indonesia bekerjasama dengan LPPOM MUI-DIY
1. Laboratorium Histologi&Embriologi, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2. Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
3. Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lethal dose 50 (LD50) asap cair grade 2 pada mencit betina strain Swiss. Sebelum penentuan dosis LD50, terlebih dahulu dilakukan prapenelitian dengan berbagai tahapan dosis dengan menggunakan 2 ekor mencit pada tiap kelompok. Uji prapenelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan dosis dimana kedua mencit tidak mengalami kematian dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit mengalami kematian. Sebelum dilakukan perlakuan, mencit dipuasakan makan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum dan 2 jam sesudah perlakuan. Pada tahap prapenelitian 1, larutan asap cair grade 2 diberikan secara oral dengan dosis 10, 100, 1000 dan 10.000 mg/kg bb dengan menggunakan faktor (R) 10. Setelah diperoleh kisaran dosis yang berada diantara 1000 - 10.000 mg/kg bb, kemudian dilakukan tahapan prapenelitian ke-2 dengan menggunakan faktor (R) 2 yaitu pada dosis 2000, 4000 dan 8000 mg/kg bb. Berdasarkan hasil prapenelitian, dapat diketahui bahwa dosis bawah dan atas di tahapan penelitian dimulai pada dosis 6500 mg/kg bb - 9500 mg/kg bb.
Pada tahap penelitian, mencit dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 ekor. Kelompok 1 sebagai kontrol diberi makan dan minum standar. Kelompok 2 diberi larutan asap cair grade 2 dengan dosis 6500 mg/kg bb/oral dan kelompok 3 diberi larutan asap cair grade 2 dengan dosis 7000 mg/kg bb/oral. Kelompok
4 diberi larutan Asap cair grade 2 dosis 7500 mg/kg bb/oral dan kelompok 5 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 8000 mg/kg bb/oral. Kelompok 6 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 8500 mg/kg bb/oral dan kelompok 7 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 9000 mg/kg bb/oral. Kelompok 8 diberi larutan asap cair grade 2 dosis 9500 mg/kg bb/oral/hari. Data kematian ditetapkan selama 48 jam setelah perlakuan. Penentuan LD50 dilakukan dengan melihat kematian mencit pada setiap kelompok perlakuan selama 48 jam. Gejala klinis setiap individu mencit diamati, data kematian dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang kemudian dijadikan persentase kematian. Hasil persentase kematian kemudian dihitung dengan metode Reed-Muench menggunakan interpolasi linier untuk mendapat LD50 dan standard error (SE).
Gejala klinis yang tampak pada mencit perlakuan diantaranya peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Kelompok perlakuan dengan dosis tinggi, mencit mengalami kematian setelah periode kritis (3 jam), sementara mencit pada kelompok lainnya mati pada periode antara 24 – 48 jam. Hasil LD50
± SE asap cair grade 2 dengan metode Reed-Muench diperoleh dosis 7848 ± 191,069.
Pendahuluan
Pengasapan merupakan proses pengolahan bahan makanan yang seringkali digunakan pada pengolahan daging, ikan, dan bahan makanan lainnya. Pengasapan ini berfungsi selain menurunkan kadar air juga mengembangkan warna, cita rasa yang spesifik dan menghambat mikrobia. Proses pengasapan secara tradisional dengan menggunakan asap pembakaran secara langsung mempunyai beberapa kelemahan seperti kualitas yang kurang konsisten, kesulitan pengendalian prosesnya, terdepositnya ter pada bahan makanan sehingga membahayakan kesehatan. Pengasapan juga menyebabkan pencemaran lingkungan serta memungkinkan bahaya kebakaran (Amriah, dkk., 2006).
Kelemahan-kelemahan di atas dapat diatasi dengan mengembangkan proses pengasapan menggunakan asap cair, yaitu campuran larutan dari dispersi uap asap kayu dalam air (Amriah, dkk., 2006).
Asap cair yang berasal dari tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan dasar dengan cara pirolisis dalam reaktor pada suhu 400 – 500 oC diikuti dengan kondensasi menggunakan air sebagai medium pendingin. Kondensat yang dihasilkan didestilasi sebanyak dua kali dan disaring dengan zeolit diteruskan dengan penyaringan vakum (Asap Cair 1). Asap cair kedua berasal dari destilasi 2x dilanjutkan dengan destilasi fraksinasi
0 – 100 oC (Asap cair grade 2). Dari hasil penelitian asap cair yang jernih kekuningan atau asap cair grade 2 bagus digunakan untuk pengawetan makanan seperti bakso, tahu dan mie (Amriah, dkk., 2006).
Penggunaan asap cair untuk memberikan citarasa serta pengawetan ada beberapa metode seperti penambahan asap cair langsung ke produk dalam bentuk saus, pencelupan langsung dalam asap cair, penyemprotan larutan asap ke produk, atomisasi asap cair dalam bentuk kabut, dan penguapan asap cair sehingga berubah bentuk manjadi asap sehingga kontak dengan produk (Amriah, dkk., 2006).
Namun demikian, pengujian sifat toksik dari asap cair grade 2 belum dilakukan baik menggunakan hewan model ikan ataupun mamalia. Pengujian daya toksik suatu bahan kimia dapat dilakukan dengan penentuan lethal concentration 50 (LC50) pada ikan atau pengujian lethal dose 50 (LD50) pada hewan mamalia seperti kelinci, tikus dan mencit. Penetapan LD50 adalah penetapan kemampuan toksik suatu bahan kimia secara akut yang menyebabkan kematian hewan coba hingga mencapai 50% melalui pemberian secara oral
(Anonim, 1998).
Uji toksisitas akut sangat penting untuk mengukur dan mengevaluasi karakteristik toksik dari suatu bahan kimia. Uji ini dapat menyediakan informasi tentang bahaya kesehatan manusia yang berasal dari bahan kimia yang terpapar dalam tubuh pada waktu pendek melalui jalur oral. Data uji akut juga dapat menjadi dasar klasifikasi dan pelabelan suatu bahan kimia (Anonim, 1998).
Toksisitas akut didefinisikan sebagai kejadian keracunan akibat pamaparan bahan toksik dalam waktu singkat, yang biasanya dihitung menggunakan nilai LC50 atau LD50. Nilai ini didapatkan melalui proses statistik dan berfungsi mengukur angka relatif toksisitas akut bahan kimia (Anonim, 1998). Toksisitas akut dari bahan kimia lingkungan dapat ditetapkan secara eksperimen menggunakan spesies tertentu seperti mamalia, bangsa unggas, ikan, hewan invertebrata, tumbuhan vaskuler dan alga (Hodgson dan Levi, 1997). Uji toksisitas akut dapat menggunakan beberapa hewan mamalia, namun yang dianjurkan untuk uji LD50 diantaranya tikus, mencit dan kelinci (Anonim, 1998).
Uji toksisitas akut dapat dipengaruhi oleh respon biologik hewan uji seperti jenis kelamin. Contoh respon tubuh akibat jenis kelamin yaitu nilai LD50 Digitoxin yang diuji pada tikus jantan diperoleh angka 56 mg/kg bb, sementara untuk tikus betina 94 mg/kg bb
(Buck, dkk.,1976). Pada uji toksisitas, disyaratkan untuk setiap kelompok perlakuan menggunakan hewan coba dengan jenis kelamin sejenis dan umur yang direkomendasikan seperti untuk tikus dan mencit, umur yang direkomendasikan untuk uji adalah diantara
8 – 12 minggu, sementara untuk kelinci berumur 12 minggu (Anonim, 1998).
Penelitian ini dilakukan untuk menguji LD50 bahan asap cair grade 2 menggunakan hewan model mencit betina galur Swiss.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lethal dose 50 (LD50) asap cair grade 2
pada mencit betina galur Swiss.Materi dan Metode
Asap cair grade 2
Larutan asap cair pekat digunakan sebagai bahan awal penelitian yang kemudian diencerkan menjadi konsentrasi 60% dan 6%. Perhitungan dosis LD50 yang menggunakan satuan mg/kg bb, pada larutan asap cair ini dihitung berdasar pengenceran konsentrasi 60% dan 6%. Perlakuan diberikan secara oral pada mencit dengan volume 0,5 ml/30 gr bb. Selama perlakuan, peneliti menggunakan hand spoon disposible dan masker.
Hewan coba
Sembilan puluh empat ekor mencit galur Swiss, jenis kelamin betina, belum beranak dan tidak bunting, umur 2 bulan dengan berat rata-rata 30 gram digunakan untuk penelitian ini. Mencit diperoleh dari Unit Pelayanan Pra Klinik LPPT UGM. Mencit dikandangkan menggunakan fasilitas kandang Unit Pelayanan Pra Klinik LPPT Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan suhu 27±10C dan kelembaban 65±5%. Mencit sebelum diberi perlakuan, diadaptasikan dahulu terhadap kondisi penelitian selama
1 minggu (Anonim, 1998). Mencit diberi makanan standar berbentuk pelet jenis BR-1
(Comfeed Indonesia) serta air minum secara ad libitum.
Rancangan percobaan LD50
Berdasarkan metode Weil (1952), untuk menentukan dosis LD50, terlebih dahulu dilakukan prapenelitian dengan berbagai tahapan dosis menggunakan 2 ekor mencit pada tiap kelompok (Al-Sultan dan Hussein, 2006). Uji prapenelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan dosis dimana kedua mencit tidak mengalami kematian, dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit mengalami kematian (Miya, dkk., 1976). Sebelum dilakukan perlakuan, mencit dipuasakan makan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum dan
2 jam sesudah perlakuan (Anonim, 1998). Tahap prapenelitian pertama, larutan asap cair grade 2 diberikan secara oral dengan dosis 10, 100, 1000 dan 10.000 mg/kg bb dengan menggunakan faktor (R) 10. Setelah diperoleh kisaran dosis berada diantara 1000 - 10.000 mg/kg bb, kemudian dilakukan tahapan prapenelitian 2 dengan menggunakan faktor (R) 2 yaitu pada dosis 2000, 4000 dan 8000 mg/kg bb (Buck, dkk.,1976; Anonim, 1998). Berdasarkan hasil prapenelitian, dosis bawah dan atas ditemukan masing-masing 6500
mg/kg bb dan 9500 mg/kg bb, sehingga dosis tersebut digunakan sebagai pedoman pada tahap penelitian.
Pada tahap penelitian, digunakan 80 ekor mencit. Mencit dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 ekor. Mencit kelompok 1 sebagai kontrol diberi makan dan minum standar. Kelompok 2 diberi larutan asap cair dengan dosis 6500 mg/kg bb/oral dan kelompok 3 diberi larutan asap cair dengan dosis 7000 mg/kg bb/oral. Kelompok 4 diberi larutan asap cair dosis 7500 mg/kg bb/oral dan kelompok 5 diberi larutan asap cair dosis 8000 mg/kg bb/oral. Kelompok 6 diberi larutan asap cair dosis 8500 mg/kg bb/oral dan kelompok 7 diberi larutan asap cair dosis 9000 mg/kg bb/oral. Kelompok 8 diberi larutan asap cair dosis 9500 mg/kg bb/oral/hari. Data kematian ditetapkan selama 48 jam setelah perlakuan (Anonim, 1998).
Penentuan LD50
Penentuan LD50 dilakukan dengan melihat kematian mencit pada setiap kelompok perlakuan mulai dosis 6500-9500 mg/kg bb selama 48 jam. Data kematian dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang kemudian dijadikan persentase kematian. Hasil persentase kematian kemudian diolah menurut metode Reed-Muench dengan interpolasi linier untuk mendapat LD50 dan standard error (SE) (Miya, dkk., 1976).
Gejala klinis
Hasil dan Pembahasan
Gejala klinis yang tampak pada mencit perlakuan dosis tinggi diantaranya peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Kelompok perlakuan dengan dosis tinggi, mencit mengalami kematian setelah periode kritis (3 jam), sementara mencit pada kelompok lainnya mati pada periode antara 24 – 48 jam.
Penetapan LD50 dan standard error (SE)
Penetapan LD50 menurut metode Reed-Muench menggunakan interpolasi linier dapat dilihat pada tabel 1.
Penelitian atau kajian literatur yang menjelaskan tentang toksisitas asap cair grade 2 yang berasal dari tempurung kelapa pada mencit belum pernah dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menentukan dosis LD50 asap cair grade 2 yang berasal dari tempurung kelapa. Gejala klinis yang umum pada kejadian hewan yang mengalami toksik yang berat diantaranya salifasi yang berlebih, diare, peradangan pada mulut, esofagus, dan lambung, reaksi pupil mata yang menurun, takikardia, hewan tidak mau bergerak atau bergerak tidak teratur (Al-Sultan dan Hussein, 2006). Gejala klinis mencit kelompok perlakuan dosis
9000-9500 mg/kg bb pada penelitian ini meliputi gejala peningkatan aktifitas, peningkatan bernafas, mencit tampak meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Pada akhirnya mencit mulai menutup mata dan terlihat tenang. Gejala klinis mencit kelompok dosis 6500 – 8000 mg/kg bb tidak menunjukkan gejala toksik yang berat. Waktu kematian pada perlakuan dosis 9000 – 9500 rata-rata 17 jam, waktu kematian pada dosis
8000 – 8500 rata-rata 24 jam, sementara waktu kematian pada dosis 7000 – 7500 rata-rata
36 jam. Data waktu kematian ini, menunjukkan bahwa pada dosis 9000 – 9500 merupakan dosis toksisitas tinggi.
Hasil LD50 ± SE asap cair grade 2 yang telah di uji dengan metode Reed-Muench
(Miya, dkk., 1976) yaitu 7848 ± 191,069 mg/kg bb. Menurut Hodgson dan Levi (1997), skema rangking nilai toksisitas akut (LD50) bahan kimia yang diuji pada hewan mamalia, untuk dosis LD50 dosis kurang dari 50 mg/kg bb dinyatakan bersifat toksik yang ekstrim, dosis 50 – 500 mg/kg bb dinyatakan sangat toksik, dosis 500 – 5000 mg/kg bb dinyatakan bersifat toksik moderat, sementara dosis diatas 5000 mg/kg bb dinyatakan relatif tidak toksik. Dari hasil penelitian LD50 yang telah dilakukan diperoleh nilai LD50 yaitu
7848 ± 191,069 mg/kg bb. Berdasarkan skema rangking nilai toksisitas akut (lihat tabel 2.), dinyatakan bahwa larutan asap cair grade 2 relatif tidak toksik.
Ucapan Terimakasih
Ucapan terima kasih diucapkan kepada Direktur CV. Pusat Pengolahan Kelapa
Terpadu, Yogyakarta yang telah membantu dalam pengadaan Asap Cair Grade 2.
*Prosiding Seminar Nasional ”Peran Bioteknologi bagi Kesejahteraan Umat”, Yogyakarta, 24 Mei 2008. Diselenggarakan oleh Yayasan Memajukan Bioteknologi Indonesia bekerjasama dengan LPPOM MUI-DIY
diposkan oleh asapcair @ 22:57 0 Komentar
Link ke posting ini 

Pendahuluan
Saat ini Indonesia dikenal memiliki
luas perkebunan kelapa terbesar di dunia yakni 3,712 juta Ha, sebagian besar
merupakan perkebunan rakyat (96,6%) sisanya milik negara (0,7%) dan swasta
(2,7%). Dari potensi produksi sebesar 15 milyar butir pertahun hanya
dimanfaatkan sebesar 7,5 milyar butir pertahun atau sekitar 50% dari potensi
produksi. Masih banyak potensi kelapa yang belum dimanfaatkan karena berbagai
kendala terutama teknologi, permodalan, dan daya serap pasar yang belum merata.
Selain sebagai salah satu sumber minyak nabati, tanaman kelapa juga sebagai sumber pendapatan bagi keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa dan produk ikutannya di Indonesia.
Selain sebagai salah satu sumber minyak nabati, tanaman kelapa juga sebagai sumber pendapatan bagi keluarga petani, sebagai sumber devisa negara, penyedia lapangan kerja, pemicu dan pemacu pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru, serta sebagai pendorong tumbuh dan berkembangnya industri hilir berbasis minyak kelapa dan produk ikutannya di Indonesia.
Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu telah banyak melakukan riset aplikasi dan model-model pengembangan pengolahan kelapa secara terpadu di masyarakat. Berbagai produk yang telah dikembangkan diantaranya : Virgin Coconut Oil (VCO), minyak goreng sehat, biodiesel pengganti solar, bioethanol pengganti bensin, briket arang, asap cair sebagai bahan pengawet alami, natadecoco, aneka produk kerajinan dari sabut kelapa, dan aneka produk kosmetik dari VCO. Kesemua produk tersebut dapat diproses dengan mudah oleh masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.
Potensi kelapa yang sangat besar dan tersebar diberbagai daerah sangat memungkinkan dikembangkan berbasis masyrakat untuk meningkatkan perekonomian daerah dan memberikan efek pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu yang memiliki pengalaman dalam bidang riset dan pengembangan produk kelapa berbasis masyarakat dapat membantu pemerintah daerah yang berminat untuk mengembangkan program kelapa.
Konsep Zero Waste & Asap Cair
Pengolahan Kelapa Terpadu adalah
satu industri berbasis rakyat yang mengolah kelapa menjadi berbagai produk.
Kelebihan kelapa dibandingkan buah
yang lain yaitu semua bagian dari kelapa dapat dimanfaatkan menjadi berbagai
macam produk. Sehingga tidak menyisakan limbah apapun.
Bahkan Tempurung Kelapa dapat
dijadikan sebagai Bahan Bakar alternatif dan bahan baku pembuatan Liquid Smoke
(asap Cair).
Asap Cair ini dapat digunakan
sebagai Bahan Tambahan Makanan atau pengawet makanan, sehingga persoalan
formalin (yang sampai ini tidak pernah diberikan jalan keluarnya) dapat diatasi
dengan asap cair, produk ini dapat digunakan pada berbagai macam aplikasi
produk-produk makanan; antara lain pada Industri Mie basah, bakso, industri
perikanan dan lain-lain. bahkan CV. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu saat ini
sudah memproduksi Asap Cair untuk dicampurkan ke dalam es batu, sehingga
nelayan tidak perlu menggunakan formalin ketika harus berlayar dalam waktu
tertentu, selain mengurangi penggunaan es dalam jumlah besar sewaktu berlayar,
juga tidak memerlukan formalin (yang selama ini masih tetap digunakan karena
nelayan tidak memiliki alternati yang lain).
Asap Cair juga dapat digunakan
sebagai perisa (saat ini CV. PPKT sedang mengajukan register sebagai TBM perisa
di BPOM), yaitu memberikan taste asap pada berbagai makanan, seperti daging
asap, nasi goreng asap, ikan asap dan lain-lain.
Saat ini CV. PPKT telah meluncurkan
merk BioShell (dalam proses pendaftaran merk) kelebihan merek BioShell ini
adalah telah melalui berbagai uji kelayakan dipersyaratkan BPOM dan saat ini
dalam proses registrasi.
CV. PPKT juga telah membuat Asap
Cair yang tidak memiliki rasa, sehingga bisa digunakan untuk menunda pembusukan
makanan tanpa merubah rasa dari makanan tersebut, warnanya bening seperti air.
untuk dapat melihat gambaran tentang
asap cari mungkin perlu dilihat pada:
atau
Bisa menghubungi:
Bpk.Imam Nurhidayat
CV. Pusat Pengolahan Kelapa Terpadu/
Coconut Center Repindo
Jl. Nitikan Baru 09 Jogjakarta
Tilp. Fax. 0274-372376
email: repindo_indonesia@yahoo.com
Hp. 081578746149
diposkan oleh asapcair @ 21:35 1 Komentar
Link ke posting ini
http://asapcair.blogspot.com/
Reaksi reduksi kosidasi
Resume reaksi reduksi
oksidasi yang meliputi :
1. Definisinya
2. Syarat
– syarat berlangsungnya reaksi
3. Mekanisme
reaksi
4. Jenis
– jenis reaksi
Jawaban
1. Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang menjelaskan berubahnya bilangan
oksidasi (keadaan oksidasi) atom-atom dalam sebuah reaksi kimia.Hal
ini dapat berupa proses redoks yang sederhana seperti oksidasi karbon yang
menghasilkan karbon dioksida, atau reduksi karbon oleh hidrogen
menghasilkan metana(CH4),
ataupun ia dapat berupa proses yang kompleks seperti oksidasi gula pada tubuh manusia
melalui rentetan transfer elektron yang
rumit.Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi dan oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut:
2.
Syarat reaksi redoks : harus ada
perubahan bilok
BILANGAN
OKSIDASI :
Banyaknya
muatan listrik dari unsur-unsur dalam suatu
persenyawaan
Peraturan-peraturan
bilok :
ü Bilangan
oksidasi satu unsur bebas = 0
ü Bilangan
oksidasi satu atom hidrogen = + 1
ü Bilangan
oksidasi satu atom oksigen = -2
ü Bilangan
oksidasi logam, selalu positip. Logam alkali
ü selalu +1
dan alkali tanah selalu +2
ü Jumlah bilok
semua unsur dalam senyawa = 0
3. Mekanismenya
NaCrO2
+ Br2 + NaOH
→ ?
Penyelesaian:
CrO2- → CrO42- +
3e
Br2 + 2e →
2Br –
Penyetaraan Persamaan Redoks
CrO2- + 4OH
- → CrO42- + 3e + 2H2O
) x 2
Br2 + 2e → 2Br - ) x3

2CrO2- +
8OH - → 2 CrO42- + 6e +
4H2O
3Br2 + 6e → 6Br -

2 CrO2- + 3Br2 + 8OH- →
2CrO42- +
4H2O + 6Br-
+ 2Na+ +
8 Na+
→ + 4Na+ + 6Na+
2NaCrO2 + 3Br2 + 8NaOH → 2Na2CrO4 + 4H2O
+ 6NaBr
4. Jenis
– jenis reaksi
1.
REAKSI
SEDERHANA
K + Cl2 → KCl
Langkah-langkah :
a. Cari perubahan bilok unsur-unsur
b. Tulis reaksi oksidasi dan reduksi secara terpisah
c. Kalikan masing-masing reaksi dengan bilangan tertentu untuk
menyamakan elektron yang dilepas dan yang ditangkap
d. Jumlahkan kedua
reaksi tersebut
2. REAKSI DI LINGKUNGAN ASAM
Syarat : harus diketahui perubahan biloknya. Contoh :
Cu + HNO3
→ ?
Cu
→ Cu2+ (oksidasi)
NO3- →
NO (reduksi)
LANGKAH-LANGKAH :
§ Tulis masing-masing reaksi oksidasi dan reduksi secara
terpisah, lengkapi dengan perubahan elektron
§ Pihak yang kekurangan oksigen, ditambah H2O,
yang
kekurangan hidrogen tambahkan ion H+. Sempurnakan masing
masing reaksi
§ Kalikan masing-masing reaksi dengan bilangan tertentu
untuk menyamakan jumlah elektron yang dilepas dan yang ditangkap
§ Jumlahkan kedua reaksi tersebut
§ Tulis hasil reaksi lengkap sesuai dengan zat yang
bereaksi
3. REAKSI DI LINGKUNGAN BASA
Langkah
–langkah :
•
Tulis
masing-masing reaksi oksidasi dan reduksi secara terpisah, lengkapi dengan
perubahan
elektron
•
Pihak
yang kekurangan oksigen, ditambah OH-, yang kekurangan hidrogen tambahkan ion H2O.
Sempurnakan
masing masing reaksi
•
Kalikan
masing-masing reaksi dengan bilangan tertentu untuk menyamakan jumlah elektron
yang dilepas dan yang ditangkap
•
Jumlahkan
kedua reaksi tersebut
•
Tulis
hasil reaksi lengkap sesuai dengan zat-zat yang bereaksi
Langganan:
Postingan (Atom)